Laag in Prijs, Hoog in Kwaliteit
Jl.Mawar No 22 Bogor
Seperti sebuah saksi sejarah, Delicieus membuktikan mampu terus memproduksi roti selama 60 tahun lebih. Pemiliknya, Daud, yang telah berusia 88 tahun seringkali masih ingin melayani pembeli yang silih berganti datang. Dengan terbata-bata, Daud menceritakan bagaimana bisnis bakery ini dimulai. Bogor, sebagai kota yang difavoritkan oleh warga Belanda, maka kehadiran bakery sangat rasional untuk memenuhi kebutuhan akan makanan pokok warga Belanda yang tinggal di kota hujan tersebut. “Dulu yang bisa membuat roti hanya orang Jerman dan Belanda. Saya dulu juga belajar sambil bekerja, hingga bos saya menjual usaha bakerynya dan saya lanjutkan kegiatan produksinya sampai sekarang,”jelas Daud.
Sejak umur 18 tahun, Daud telah membuat berbagai jenis roti dengan gaya Belanda. Saat ini karena factor usianya, usaha bakerynya dilanjutkan oleh keponakannya, yaitu Kaman dan istrinya Ratna. “Saya dan suami membantu Om Daud sejak tahun 1992 dalam memproduksi roti khas Delicieus dengan resep yang sama. Bukan hanya konsep roti yang masih dipertahankan tetapi juga desain interior bakery tidak boleh dirubah oleh Om Daud,” jelas Ratna. Walaupun terkesan kuno, Ratna yakin jika bisnis bakery ini akan bertahan. “Berbeda dengan tipe roti yang sedang menjadi trend saat ini, roti manis dan juga tawar di bakery kami lebih berat dan tidak mengutamakan pada tampilannya tetapi lebih pada cita rasa dan kepuasan ketika menikmati tiap potong roti,”ujar Ratna.
Daud juga masih mengingat bagaimana perjalanan bisnis rotinya ini, yaitu ketika seorang baker dari Jerman diusir paksa oleh warga Belanda di Bogor, toko roti Delicieus mendadak menjadi bakery yang difavoritkan. Sempat tidak berproduksi ketika tepung terigu tidak ada di pasaran, tepatnya di jaman penjajahan Jepang, hingga akhirnya Daud bekerja di Jakarta sebagai baker. Setelah kondisi stabil, Daud kembali lagi ke Bogor dan membesarkan nama Delicieus.
Artikel selengkapnya dapat dibaca di majalah Bakery Indonesia edisi Maret 2010.
























Leave a reply