Saat mendarat di bandara Polonia Medan atau akan terbang kembali ke kota asal dari bandara tersebut, maka kardus oleh-oleh dengan merek Bolu Mrenati akan bertebaran di seantero bandara, dijinjing oleh sebagian besar penumpang. Belum terhitung yang masuk bagasi pesawat, karena BAKERY INDONESIA menyaksikan sendiri banyak trolley ditumpuk oleh kardus Bolu Meranti dari bawah sampai atas. Maka keputusan kami untuk mewawancarai pemilik Bolu Meranti tentu merupakan keputusan yang sangat tepat.
Adalah Nyonya Ayling, sebagai pendiri Bolu Meranti, yang sejak muda dan saat berumah tangga sudah hobi membuat cake yang juga dijual kepada tetangga dan sahabatnya. “Kami tidak membuka gerai sama sekali waktu itu. Kadang-kadang titip ke Tante yang rumahnya di Jalan Meranti,” Rissa sang puteri kedua menjelaskan kepada BAKERY INDONESIA. Kami menemui dan mewawancarainya di tengah kepadatan pengunjung yang akan membeli bahkan sampai memborong Bolu Meranti. Pembeli seakan tidak ada putus-putusnya mendatangi gerai yang lebarnya hanya sekitar 6 meter tersebut. Produk awal yang dibuat oleh Ayling terbatas pada empat jenis roll cake yaitu rasa keju, mocca, nenas dan strawberry. Pembeli saat itu masih terbatas pada kalangan penduduk kota Medan. Kemudian ada yang meminta agar dibuatkan kemasan khusus dan diberi label bolu Meranti. Dari kemasan yang berjalan ke mana-mana itu, lama-lama membuat penasaran banyak pencinta oleh-oleh, maka gerai yang dibuka sejak tahun 2005 tersebut saat ini sudah hampir tidak kuat menampung lonjakan kunjungan pengunjung.
Gerai inipun seakan tidak ada henti harus melayani pembeli selama 360 hari setahun, yang dibuka sejak jam 08.00 sampai 20.00. “Sebentar lagi kami memang akan membuka gerai baru dan tempat produksi yang lebih besar lagi,” Rissa menambahkan. Keempat bersaudara putera dan puteri Ayling yaitu Ricca, Rissa, Kusno dan Tomy saat ini sudah dikerahkan seluruhnya untuk membantu dalam usaha yang semakin besar dan sibuk ini. “Kami hamper tidak ada waktu bersantai. Kalau mau pergi keluar took, harus ada yang menggantikan kami melayani pembeli,” Rissa menjelaskan dengan tersenyum, memahami konsekuensi dari membumbungnya omset Bolu Meranti. Mereka sejak kecil sudah terbiasa membantu menerima pesanan kue, jadi jika saat ini tetap membantu sang Ibu, sudah wajar bagi mereka. ”Ini semua berkat yang kami syukuri, namun bukan hasil dari proses yang singkat, semuanya melalui perjalanan yang panjang dan pengorbanan tentu saja,’ Rissa memaparkan…
(Lanjutan dari artikel ini dapat dibaca di majalah BAKERY INDONESIA edisi Juni 2009)























Leave a reply